Nulis Pengumuman yang Jelas, Biar Semua Orang Paham

Baca dalam bahasa lain: Baca vérsi basa Sunda · Baca vérsi basa Inggris

Pernah kirim pengumuman kerja bakti, tanggal dan jamnya sudah ditulis lengkap, tapi sepuluh menit kemudian tetap ada yang nanya: "Jadi hari apa ya, Pak?" Kejadian seperti ini bukan tanda warga kurang teliti. Sering kali pengumumannya yang belum bekerja.

Pengumuman yang jelas bukan soal bahasa yang bagus. Yang penting cuma satu: setelah membaca, orang tahu apa yang harus dia lakukan. Kalau pembaca harus menebak sendiri, tebakannya bakal berbeda-beda, dan panitia ujungnya menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali.

Masalahnya sering informasi yang tenggelam

Sering kali pengumuman ditulis seperti cerita. Pembukaan panjang, latar belakang dulu, baru intinya muncul di paragraf ketiga. Pembaca di layar ponsel biasanya menyapu cepat, jadi apa pun yang letaknya di bawah ya terlewat.

Kebiasaan lain adalah menulis dengan asumsi pembaca sudah tahu konteksnya. Singkatan internal, nama kegiatan yang belum dijelaskan, atau ruangan yang hanya disebut dengan sebutan singkat. Bagi panitia jelas, bagi orang lain tidak.

Taruh inti di awal

Urutan paling aman begini: kegiatan apa, kapan, di mana, siapa yang perlu hadir, baru keterangan tambahan. Untuk undangan kerja bakti, satu kalimat pertama sudah bisa memuat empat hal sekaligus.

Contoh: "Kerja bakti bersih masjid, Sabtu pagi jam tujuh, berkumpul di halaman depan. Bawa alat kebersihan sendiri."

Dua baris saja, dan semua pertanyaan dasar sudah terjawab. Kalimat pendek juga menolong orang yang membaca sambil berjalan atau di layar kecil. Satu pesan, satu baris. Kalau ada tiga hal berbeda, pisahkan jadi tiga baris.

Satu ajakan, jangan tiga

Banyak pengumuman menumpuk permintaan sekaligus: hadir, bawa ini, konfirmasi, lalu hubungi panitia. Kalau semuanya penting, tidak ada yang terasa penting. Pilih satu tindakan yang paling diharapkan, taruh di akhir, dan buat kalimatnya sederhana. Konfirmasi ke ketua lingkungan, atau sekadar hadir tepat waktu.

Uji sebentar sebelum dikirim

Ada cara murah untuk menguji sebuah pengumuman. Minta satu orang yang tidak ikut rapat panitia membacanya, lalu suruh dia menceritakan ulang isinya. Bagian yang salah dia sebutkan, itulah bagian yang perlu dibenahi.

Perhatikan juga salurannya. Pesan di grup percakapan sebaiknya pendek dan berdiri sendiri, tanpa perlu membuka lampiran. Poster butuh kata lebih sedikit tapi huruf besar. Keduanya bisa lahir dari satu draf yang sama, cuma dipotong beda.

Dibantu agen, tetap diperiksa manusia

Di masjid ini, draf pengumuman kadang disusun dengan bantuan agen AI, sebuah program yang membaca catatan rapat lalu menyusun rancangan teksnya. Hasilnya masih diperiksa pengurus sebelum tayang, karena agen tidak tahu siapa yang sudah diberi tahu secara lisan dan siapa yang belum.

Menariknya, agen juga berguna untuk memeriksa draf itu sendiri. Ada pemeriksaan otomatis yang menandai kalimat berbelit dan keterangan yang tidak boleh tersebar. Tapi soal kejelasan, cara paling gampang tetap diuji oleh manusia: kalau pembaca bertanya balik, berarti masih ada yang kurang.

Pengumuman yang bagus terasa membosankan bagi penulisnya, karena semuanya sudah jelas dan tidak ada ruang tafsir. Justru itu tandanya berhasil. Tugasnya sederhana: bikin orang paham tanpa harus menghubungi panitia dulu.

komunikasimenulispengumuman

← Kembali ke daftar tulisan

← Nyerat Pangumuman anu Kaharti ku Sakur Jalma